Home
Links
Bible Versions
Contact
About us
Impressum
Site Map


WoL AUDIO


Bible Treasures
Doctrines of Bible
Key Bible Verses


Afrikaans
عربي
Azərbaycanca
Bahasa Indones.
বাংলা
Български
Cebuano
Deutsch
English
Español
فارسی
Français
հայերեն
עברית
हिन्दी
Kiswahili
Кыргызча
മലയാളം
O‘zbek
Peul
Polski
Português
Русский
Srpski/Српски
தமிழ்
తెలుగు
Türkçe
Українська
اردو
Uyghur/ئۇيغۇرچه
ייִדיש
Yorùbá
中文


ગુજરાતી
Hausa/هَوُسَا
Latina
Magyar
Norsk

Home -- Indonesian -- Do we Know the Holy Spirit? -- The Holy spirit in the Gospels
This page in: -- Arabic? -- English -- German -- INDONESIAN -- Portuguese -- Russian
TOPIK 1: Apakah Kita Mengenal Roh Kudus?
Short explanations to 335 Bible texts that speak of the Holy Spirit
II. Roh Kudus di dalam Kitab-Kitab Injil

5. Janji-janji Yesus Mengenai Menerima Roh Kudus



MATIUS 5:3
3 Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.

Mengapakah Yesus mengatakan bahwa para pengemis yang mengemis di dalam Roh Kudus adalah orang yang berbahagia? Karena merekalah yang merasa berkekurangan di dalam Roh Kudus dan sungguh-sungguh menyesali dosa-dosa mereka. Mereka memahami bahwa mereka jauh dari Allah dan mulai menanggalkan kecongkakan, kemegahan, dan kebenaran diri mereka sendiri. Seperti para pengemis, mereka mulai mengulurkan tangan untuk menerima rahmat Allah. Yesus menjanjikan kepada mereka harta yang tak terhingga di surga dan semua berkat surgawi serta harta yang kekal (Efesus 1:3).

YOHANES 3:5-8
5 Jawab Yesus
(kepada Nikodemus): "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. 6 Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh. 7 Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. 8 Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh.

Yesus menjelaskan kepada Nikodemus, salah satu dari 71 anggota Mahkamah Agama (perwakilan dari bangsa itu), bahwa tanpa kelahiran kembali melalui baptisan air pertobatan, sebagaimana yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis, dan tanpa menerima Roh Kudus maka tidak ada seorangpunm yang akan bisa melihat, mengenal, atau masuk ke dalam Kerajaan Allah! J. A. Bengel menuliskan dalam bukunya yang berjudul “Gnomon” mengenai ayat ini, bahwa orang tidak perlu membuat pemahaman yang rumit mengenai kelahiran kembali. Hal itu sebenarnya hanya berarti iman yang sepenuh hati kepada Kristus (Yohanes 1:12-13). Pada saat yang sama orang juga tidak boleh menggampangkan iman dengan akal budinya, karena iman menjelaskan mengenai kelahiran baru di dalam hati dan pikiran seseorang.

Perkataan ini menjelaskan kenyataan tentang ys yang menjadi manusia, “Apa yang dilahirkan dari Roh adalah roh” (Yohanes 3:6). Keberadaan Kristus adalah inkarnasi yang kudus dari Roh Allah. Barangsiapa mau memahami dengan baik tentang Roh Kudus haruslah memandang kepada Yesus, karena keduanya sejajar, dan dalam keserasian yang sempurna dalam hal karakter, maksud, kuasa dan kekudusan.

Dalam bahasa Semitik, kata angin dan roh memiliki akar kata yang sama. Roh dibandingkan dengan sesuatu yang tidak nampak, namun bisa dengan mudah dirasakan. Sebagaimana orang tidak bisa memahami dengan pasti dari mana arah angin dan kemana perginya, demikian juga dengan keberadaan dan motivasi dari seorang pengikut Kristus yang sudah dilahirkan kembali. Bagi sesamanya manusia ia menjadi tidak bisa dipahami. Akan tetapi, damai sejahtera di dalam batinnya menunjukkan hal itu dan perbuatan kasih kudusnya akan bisa dirasakan.

Yesus selanjutnya menjelaskan kepada Nikodemus yang kebingungan mengenai kasih Allah dan kematian-Nya sendiri sebagai pengganti di atas kayu salib yang terkutuk yang menjadi dasar yang tersembunyi dari semua kelahiran baru (Yohanes 3:14-16). Sebagai tambahan, semuanya itu memungkinkan terjadinya pembenaran bagi orang berdosa melalui iman kepada anak Allah (Yohanes 3:17-18).

Semua penjelasan itu sampai kepada puncaknya di dalam perkataan Yesus, “Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali” (Yohanes 3:7). Pernyataan dari Anak Allah ini tidak hanya berlaku untuk orang-orang Kristen dan kaum atheis, tetapi juga sama berlakunya bagi orang-orang Yahudi dan Muslim. Tanpa kelahiran baru melalui Roh Kudus yang penuh dengan belas kasihan maka manusia manusia akan tetap mati secara rohani di dalam dosa mereka (Efesus 2:1-10). Roh Bapa dan Anak itu kekal dalam keberadaannya, yang sudah datang kepada kita melalui perkataan para rasul Kristus (Yohanes 6:63; Roma 8:10).

YOHANES 3:14-16
14 “Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, 15 supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. 16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Yesus memiliki belas kasihan yang besar kepada salah satu pejabat dalam Mahkamah Tinggi Yahudi (Sanhedrin) itu, dan menjelaskan kepadanya persyaratan hukum di dalam Perjanjian Lama berkenaan dengan kelahiran baru bagi orang-orang berdosa. Sebagaimana Musa menaikkan patung ular tembaga di padang gurun sebagai lambang dari penghukuman yang sudah dilakukan terhadap kejahatan (Bilangan 21:8,9), demikian juga, sangat penting bahwa Yesus memikul ke atas diri-Nya sendiri semua dosa dan kejahatan manusia – untuk bisa mengalahkan ular yang sebenarnya (Kejadian 3:1). Karena kasih-Nya bagi orang-orang berdosa Ia mati, menggantikan mereka di hadapan Allah, sebuah “kematian pengganti” yang sah. Pada jaman Musa, ketika semua orang yang sudah dipagut oleh ular beludak bisa memandang kepada patung ular tembaga yang ditinggikan itu untuk bisa mendapatkan kesembuhan dan diselamatkan, demikian juga, semua orang bisa memandang kepada Yesus yang sudah disalibkan. Dengan itu mereka mengikatkan diri kepada Dia di dalam iman. Kematian Yesus sebagai pengganti itulah yang memungkinkan kepastian bahwa orang-orang berdosa yang bertobat akan mendapatkan kehidupan kekal.

Yesus mengembangkan analogi ini dari Perjanjian Lama dan menunjukkan kepada Nikodemus bahwa kasih Allah Bapalah alasan yang ada di belakang pembenaran karena kasih karunia dan karunia Roh Kudus. Ia memberikan Anak-Nya yang dikasihi untuk menjadi korban pendamaian yang tak bercela dan untuk mati menggantikan mereka yang melanggar hukum. Dengan iman para penjahat itu bisa dibenarkan di dalam Dia dan menerima kehidupan kekal di dalam Roh Kudus. Paulus memahami hal itu dan kemudian mengakui, “tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran” (Roma 8:10).

Dalam Injil dalam bentuk singkat ini (Yohanes 3:16) kita menemukan pengakuan yang terselubung akan keberadaan dan karya dari Tritunggal yang Kudus. Bapa, Anak dan Roh Kudus, dalam kesatuan yang tak terpisahkan, memberikan penebusan terhadap orang-orang berdosa sampai hari ini.

YOHANES 4:23-24
23 “Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. 24 Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.”

Yesus sudah menjelaskan kebenaran yang sangat dalam ini dalam kata-kata yang sangat sederhana kepada perempuan yang dipandang hina yang terikat dalam perjinahan yang berkelanjutan (Yohanes 4:1-22). Setelah Yesus membongkar dosanya, dari dalam diri perempuan itu muncul keinginan yang besar untuk kehidupan yang suci dengan Allah. Ia mengingat ada orang yang menyembah sang Pencipta di Gunung Gerizim, di dekat Nablus, dan ada juga yang menyembah di Yerusalem. Yesus mengatakan kepadanya bahwa Allah adalah Bapa yang penuh dengan belas kasihan dan Ia bisa disembah dimana saja dan kapan saja. Namun, Bapa ini, menghendaki agar penyembah-penyembah yang benar mengenali dan mengakui dosa mereka dan menerima pembenaran dari-Nya melalui korban pendamaian dari Yesus. Mereka harus menerima Roh Kebenaran. Dengan itu mereka mengakui Allah sebagai Bapa mereka dan tidak menyembah pencipta yang tidak mereka kenal. Mereka percaya kepada Bapa dari Yesus Kristus, yang juga adalah Bapa mereka!

Yesus membuat pembedaan yang jelas antara penyembah yang benar dengan penyembah yang salah. Orang-orang Budha menyembah patung Budha emas di tempat-tempat ibadah mereka dengan kesabaran dan kesetiaan yang menakjubkan. Orang-orang Muslim bersujud di hadapan Allah mereka yang tidak bisa terselami itu sebanyak 34 kali sehari, sampai dahi mereka menyentuh lantai. Hanya orang-orang Kristen yang justru kelihatan sangat malas, karena mereka kadangkala berdoa ketika sedang duduk atau sedang berbaring, di dalam kendaraan, atau dimana saja mereka berada. Namun, Yesus mengatakan bahwa bukanlah keadaan jasmani atau tempat penyembahan yang menentukan penerima seseorang di hadapan Allah. Namun, sikap hati dari penyembah yang sangat menentukan, disertai juga dengan pengenalan akan siapa yang disembahnya. Penyembah yang benar, sebagai anak-anak yang dibenarkan oleh Bapanya, menyembah Dia di dalam roh dan kebenaran.

Yesus menyatakan kepada seorang berdosa yang sedang mencari cara penyembahan yang benar itu sebuah rahasia yang besar – Allah adalah Roh, bukan sebuah berhala! Pada saat yang sama, Allah Yang Kudus adalah terang yang kekal dan awal yang menerangi pemahaman dan jiwa manusia dengan Roh-Nya (1 Yohanes 1:1, 5). Ia merupakan perwujudan dari kasih pengorbanan yang mengalahkan semua kejahatan dan memungkinkan adanya persekutuan antara Diri-Nya dengan manusia (1 Yohanes 4:16). Namun, Allah tidak mengijinkan diri-Nya ditekan dan dibatasi dalam bentuk manusia saja. Ia lebih agung dan lebih adil serta lebih berbelas kasihan dibandingkan yang bisa kita pahami. Yehezkiel dan Yohanes melihat kemuliaan tahta Allah dan mengenali Dia yang duduk di tahta itu. Yohanes membandingkan Dia seperti kaca jernih bagaikan kristal, tanda akan kekudusan-Nya, dan seperti permata yaspis yang memancarkan cahaya merah, tanda dari kasih-Nya yang menyala-nyala. Dari kekudusan kasih yang mahakuasa ini juga muncul permata sardis berwarna hijau, yang memancarkan lingkaran energi di sekitar tahta-Nya. Dengan itu bisa dikatakan bahwa Allah yang keagungan-Nya tidak terselami itu bukanlah roh yang mengerikan dan menakutkan, tetapiBapa kita, yang penuh dengan kekudusan dan penuh dengan kasih yang murni (Yehezkiel 1:1-28; Wahyu 4:1-8).

Siapakah yang menyembah Bapa Yesus Kristus di dalam roh dan kebenaran? Siapakah yang sudah lepas dari lingkaran monoton yang terus menerus berputar mengeliling “Aku” dan memalingkan perhatian hidupnya sepenuhnya kepada Allah yang benar? Yesus Kristus memerintahkan para pengikut-Nya untuk pertama-tama berdoa, “Bapa Kami yang ada di surga, dikuduskanlah nama-Mu. Datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga.” Kemudian baru diikuti oleh permintaan berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin. ”Barangsiapa menaikkan doa yang demikian berarti mereka menyerahkan diri sepenuhnya dengan sadar dan penuh kepercayaan bersama-sama dengan para penyembah lain yang tak terhitung banyaknya. Ia diubahkan dalam gambar Bapa, dan menyembah Dia yang sudah mengangkat kita ke dalam kasih-Nya yang kudus sampai kepada tingkatan dimana Dia berada (Matius 5:48).

YOHANES 7:37-39
37 Dan pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri dan berseru: "Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! 38 Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup." 39 Yang dimaksudkan-Nya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya; sebab Roh itu belum datang, karena Yesus belum dimuliakan.

Hari Raya Pondok Daun adalah salah satu hari raya yang sangat penting bagi keturunan Yakub. Di dalamnya mereka mengingat, tentang pemeliharaan terhadap bangsa mereka yang mengembara di padang gurun di tengah-tengah keadaan yang sulit, dan pada saat yang sama, mengucapkan syukur atas Perjanjian Allah karena semua panen buah-buahan dan anggur dari tahun yang sudah berlalu. Kecukupan akan air senantiasa sangat berpengaruh bagi keberlangsungan seseorang dan juga sebuah masyarakat. Karena itu, pengucapan syukur yang segenap hati dinaikkan kepada Allah atas setiap tetes air yang ada.

Yesus mengundang semua orang yang ada di masa akhir jaman ke dalam sebuah perjamuan, “Barangsiapa yang haus, hendaklah ia datang kepada-Ku dan minum!” Dengan itu ia bersaksi bahwa Dialah sumber dari air yang memberikan kehidupan. Lebih lanjut Ia mengatakan bahwa korban pendamaian berupa tubuh-Nya akan mendatangkan aliran mata air Roh Kudus yang akan mengalir ke segala arah di dunia yang sedang mati karena kehausan. Kemudian, mujizat yang sangat luar biasa akan terjadi bahwa semua orang yang percaya kepada-Nya (dan menjalin hubungan hati dengan-Nya) dan semua yang minum dari air kehidupan-Nya juga akan menjadi sumber air kehidupan bagi orang-orang lain. Barangsiapa mengikut Yesus dipanggil untuk tetap menjadi saluran dimana air dari Roh Kudus dialirkan kepada orang-orang lain.


Meminta Roh Kudus

LUKAS 11:5-13
5 Lalu kata-Nya kepada mereka: "Jika seorang di antara kamu pada tengah malam pergi ke rumah seorang sahabatnya dan berkata kepadanya: Saudara, pinjamkanlah kepadaku tiga roti, 6 sebab seorang sahabatku yang sedang berada dalam perjalanan singgah ke rumahku dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya; 7 masakan ia yang di dalam rumah itu akan menjawab: Jangan mengganggu aku, pintu sudah tertutup dan aku serta anak-anakku sudah tidur; aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepada saudara. 8 Aku berkata kepadamu: Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya. 9 Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. 10 Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. 11 Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari padanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan? 12 Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya kalajengking? 13 Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”

Perumpamaan Yesus yang sangat menarik ini harus mendorong kita untuk tidak hanya meminta karunia Roh Kudus untuk diri kita sendiri. Lebih lagi, kita harus terus menerus meminta kepada Tuhan sampai Dia dengan berkelimpahan memberikan roti hidup bagi sahabat-sahabat kita, kenalan kita, kerabat kita dan rekan-rekan sekerja kita. Dengan khotbah-Nya yang sangat jelas ini, Yesus menantang kita untuk senantiasa menaikkan syafaat bagi orang-orang lain, sehingga mereka yang mati di dalam dosa bisa menerima kehidupan kekal melalui Roh Kekudusan.

Yesus dengan sungguh-sungguh memerintahkan agar kita meminta, untuk dengan sepenuh hati mencari (sampai kita menemukan kehendak Allah), dan untuk mengetuk di pintu surga (sampai terbuka) dan kita menerima, dari kepenuhan-Nya, “kasih karunia demi kasih karunia.” Pada saat yang sama, Yesus berjanji akan menjawab doa kita tanpa penundaan. Ia memberikan jaminan bagi kita:Barangsiapa meminta kepada Bapa, menerima, barangsiapa mencari, mendapati, dan barangsiapa mengetuk pintu, baginya pintu akan dibukakan! Apabila kita mendapati kurangnya iman, kasih dan pengharapan di dalam diri kita atau gereja kita, maka rangkaian perintah Yesus itu memanggil kita untuk mengubah jalan kita. Semua perintah itu menjadi pengingat kepada kita akan iman dan ucapan syukur. Dengan “menyebut Allah sebagai Bapa” Yesus memberikan jaminan yang pasti—bahwa semua orang yang meminta dengan keyakinan penuh akan menerima kasih karunia dan kuasa Roh Kudus, baik untuk dirinya sendiri dan bagi sahabat-sahabatnya! Janji yang sangat unik di dalam Alkitab ini harus menembus ke dalam hati nurani kita dan memunculkan keinginan untuk meminta di dalam diri kita bagi kepentingan semua orang yang ditunjukkan oleh Roh Yesus kepada kita.

YOHANES 6:63
63 “Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.

Yesus memberikan jaminan kepada para murid-Nya bahwa bukanlah permintaan mereka dan iman mereka yang terpenting yang akan menyelamatkan mereka dan menjamin kehidupan kekal mereka. Juga, bahwa perkataan-perkataan Yesus sejak semula berisi Roh Kudus-Nya. Barangsiapa merenungkan perkataan-perkataan itu dan menerjemahkannya ke dalam kesetiaan doa akan menerima kehidupan kekal dari Roh Yesus. Tuhan mau menyelamatkan kita bahkan sebelum kita meminta kepada-Nya akan keselamatan dan kelahiran baru. Perkataan-perkataan-Nya penuh dengan Roh dan kehidupan. Barangsiapa mendengar dan menjadi percaya akan hidup selamanya! Yesus mengatakan, “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, 28 dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. 29 Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapa pun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa. 30 Aku dan Bapa adalah satu.”


Roh Kudus dalam Khotbah Perpisahan Yesus

YOHANES 14:16-18
16 “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, 17 yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu. 18 Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu.

Penjelasan terakhir dari Yesus tetap akan menjadi permata yang tiada habisnya bagi Kekristenan. Dalam empat ayat itu Yesus berbicara mengenai Roh Penghibur, yang akan diutus oleh Bapa dan Anak kepada para murid yang merasa tidak aman dan merasa ditinggalkan. Sang Penghibur itu disebut dalam bahasa Yunani “PARAKLETOS” yang berarti penasehat hukum dalam proses pengadilan, dan juga berarti penolong yang ahli mengenai masalah dan pertanyaan hukum. Roh ini mengenal seluruh 613 perintah dari Perjanjian lama dan juga 1,000 perintah Yesus di dalam Perjanjian Baru. Lebih dari itu, Ia juga sangat memahami hukum korban di dalam kitab Imamat, dan juga mengerti tentang semua dampak hukum dari kematian Kristus sebagai pendamaian. Ia mengerti anugerah yang mulia dari Bapa dan Ia sendiri adalah “Roh yang memberi hidup di dalam Kristus” (Roma 8:2). Juga, Ia adalah kuasa Allah yang memampukan kita untuk taat dan melakukan hukum-hukum-Nya. Roh Kristus adalah kuasa yang melingkupi seluruh urusan pengadilan di dunia ini yang sudah menaklukkan Iblis dan tuntutannya. Ia menjadikan pembenaran bagi kita melalui kasih karunia Bapa dan Anak menjadi kenyataan.

Yesus meminta kepada Bapa untuk memberikan kepada para pengikut-Nya Penasehat Hukum, agar Ia bisa tetap bersama dengan mereka sampai selamanya, untuk menolong mereka percaya, mengasihi dan memiliki pengharapan. Penolong yang menguatkan ini bukanlah manusia, tetapi Roh, yang sepenuhnya adalah kebenaran. Ia sama sekali tidak membiarkan adanya dusta, dan sama sekali tidak mengijinkan adanya pemalsuan terhadap Alkitab. Roh Kebenaran tidak bisa dipahami oleh mereka yang tidak mengasihi Yesus. Mereka sama sekali tidak mengerti tentang keberadaan-Nya. Kenyataan tentang Dia tetap tersembunyi bagi mereka (Matius 11:25-26). Namun, barangsiapa menyatu dengan Yesus melalui iman, dan percaya kepada-Nya dengan sepenuh hati akan mengalami kehadiran Roh-Nya dan bahwa Dia berdiam dalam kehidupan mereka.

Yesus mengasihi murid-murid-Nya, dan memenuhi kebutuhan tubuh, jiwa dan roh mereka. Ia tahu bahwa Ia akan mati, bangkit, dan kemudian naik ke surga. Ia tidak mau meninggalkan para pengikut-Nya sendiri seperti anak-anak yatim-piatu, dan berjanji akan kedatangan-Nya kembali yang tidak nampak dalam diri Roh penghibur, yang akan diutus-Nya untuk berdiam di dalam hati mereka. Roh Kudus adalah Roh-Nya sendiri. Pada saat yang sama, Ia adalah juga Roh Bapa. Ia mengatakan, “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia” (Yohanes 14:23; 1 Yohanes 4:16). Keseluruhan pribadi Tritunggal Yang kudus berkehendak untuk berdiam di dalam kehidupan para pengikut Yesus melalui kedatangan Roh Kudus. Namun, Yesus tidak hanya akan datang secara tidak nampak kepada kita di dalam Roh Kudus, tetapi Ia akan datang secara kelihatan pada akhir jaman dan dalam kemuliaan yang sangat agung. Ia kemudian akan menghakimi orang-orang yang hidup dan yang mati serta memulai sebuah dunia dalam jaman yang baru.

YOHANES 14:26-27
26 “Tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu. 27 Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.”

Yesus menjelaskan bahwa Roh Penghibur, sang pengacara dari surga, adalah tidak lain dari Roh Kudus sendiri. Yesus sudah meminta kepada Bapa-Nya untuk mengutus Roh yang baik itu bagi kita. Bapa menjawab doa Anak-Nya yang dikasihi (Yohanes 11:41, 42) dan mengutus Roh Kudus kepada kita di dalam nama yesus Kristus. Allah Tritunggal adalah adalah kesatuan rohani yang tidak akan pernah bisa dipisahkan.

Yesus menghibur para murid-Nya dengan mengatakan kepada mereka bahwa Roh Kudus akan membuat mereka mengingat perkataan, pengajaran, perintah dan janji-janji-Nya. Sang Penghibur, sebagai pakar hukum, akan memberikan pemahaman dan mengajar mereka ketika mereka membutuhkan hikmat atau pemahaman khusus, sebagaimana yang sudah dijanjikan oleh Yesus kepada mereka, “Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. 20 Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu. (Matius 10:19-20)

Yesus juga menyatakan apa yang akan dilakukan oleh sang Paraklet, yang bekerja di dalam nama-Nya, yang akan muncul di dalam kehidupan para pengikut-Nya – Damai sejahtera! Ia akan membawa damai sejahtera di dalam hati nurani mereka, damai dengan masa lalu mereka, damai dengan diri mereka sendiri, dan damai dengan sesama serta dengan musuh-musuh mereka (Roma 12:18-21). Melalui Roh-Nya Yesus memberikan kepada kita damai sejahtera yang melampaui semua akal budi kita (Filipi 4:7), damai sejahtera yang berasal dari Dia sendiri. Seorang yang belum dilahirkan kembali tidak akan pernah bisa mengenali damai sejahtera ini, dan damai sejahtera ini juga tidak akan bisa diberikan oleh para politikus, filsuf atau orang yang dianggap sebagai orang pintar sekalipun. Damai sejahtera Allah datang sebagai roh anugerah bagi manusia. Orang-orang Kristen sangat berbeda dengan semua orang yang lain, karena mereka tidak rasis, tetapi hidup dalam kenyataan. Yesus melarang kita untuk takut menerima Roh Penghibur atau Damai sejahtera dari-Nya.

YOHANES 15:26-27
26 “Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. 27 Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku.

Setelah Yesus menyatakan bahwa Dialah yang akan mengutus Roh penghibur dari Bapa kepada para murid-Nya, Ia kemudian menekankan kembali bahwa Roh Kebenaran dan keadilan akan datang dari Bapa. Ia pernah mengatakan, “Bapa mengasihi Anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya” (Matius 11:27; Yohanes 3:35; 16:15). Dalam doa-Nya sebagai Imam Besar kepada Bapa-Nya, Yesus mengatakan kepada Bapa-Nya, “segala milik-Ku adalah milik-Mu dan milik-Mu adalah milik-Ku”, (Yohanes 17:10). Anak senantiasa menundukkan diri-Nya kepada Bapa dan selalu menghormati Dia. Allah kita adalah Allah yang rendah hati. Jadi, kita mengakui bahwa Roh Kudus memang berasal dari Bapa dan anak, sementara gereja-gereja Ortodoks hanya mengakui bahwa Roh Kudus berasal dari Bapa saja.

Roh Kebenaran tidak mewakili berbagai kenyataan filsafat yang kabur saja, tetapi menyaksikan tentang kenyataan akan Bapa dan Anak serta tawaran kasih karunia yang diberikan, yang lebih luas jangkauannya dibandingkan dengan Hukum Musa. Kalau kepenuhan tentang Kristus tidak lagi diberitakan di dalam sebuah gereja maka Roh kebenaran tidak lagi berdiam di dalam gereja itu. Roh ini memberitakan Kristus sebagai Anak Allah, lahir dari anak dara Maria, disalibkan menggantikan manusia berdosa, bangkit dari kematian, naik ke surga, dimana Ia hidup sekarang ini, duduk dan memerintah atas seluruh dunia di sebelah kanan Allah Bapa yang mulia. Rahasia dari pemerintahan-Nya atas dunia ini, adalah pencurahan Roh Kudus ke atas semua manusia (Yoel 2:28).

Bukan hanya Roh Kudus yang menyaksikan tentang Dia yang Disalibkan dan Bangkit, tetapi juga para murid Kristus, yang menjadi saksi mata yang menjelaskan akan keberadaan dan pengajaran-Nya di dalam kitab-kitab Injil. Kesaksian mereka penuh dengan Roh Kudus dan kehidupan (Yohanes 6:63) bahkan sampai hari ini.

YOHANES 16:7
7 “Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.”

Kepergian Yesus meninggalkan para murid yang masih belum dewasa itu sangat dipikirkan oleh Yesus. Namun, Ia tahu, bahwa tanpa penyaliban-Nya maka Roh Kudus tidak akan masuk ke dalam dunia. Dosa dari seluruh dunia harus diperdamaikan dulu melalui kematian Anak Domba Allah yang tak bercacat. Hanya setelah itu, Roh Bapa dan Anak bisa mengalir tanpa ada halangan ke dalam dunia yang sudah rusak dan menebus semua manusia yang siap menerima penebusan. Kematian dan kenaikan Yesus tidak bisa terpisahkan dari kedatangan Roh Kudus. Kita harus mengakui bersama dengan semua manusia yang berasal dari debu tanah itu: Tanpa Salib tidak akan ada Roh Kudus! Barangsiapa berpikir bahwa ia bisa berbicara tentang Roh Allah yang baik dan bersahabat itu tanpa adanya pertobatan yang sejati dan iman yang kuat, ia salah besar. Darah Anak Domba Allah adalah harga yang mahal untuk kedatangan Roh Kudus bagi kita.

Karena Yesus memberikan diri-Nya di atas kayu salib bagi kita maka Ia memiliki hak untuk mengutus Roh kebenaran dan kehidupan kekal kepada semua orang yang percaya kepada-Nya. Pernyataan “Aku akan mengutus Dia kepadamu” menunjukkan kejelasan akan maksud dan rencana yang dimiliki oleh Yesus. Ia mati agar kita bisa memiliki kehidupan kekal. Ia memberikan diri-Nya sendiri agar Roh Kudus bisa masuk ke dalam kehidupan kita. Yesus Kristus memiliki kehendak yang kuat dan tujuan yang tidak bisa diubah bahwa Ia akan mengutus Roh Kudus kepada kita. Bagaimana kita menanggapi tawaran-Nya yang tak terhingga itu?

YOHANES 16:8-12
8 “Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman; 9 akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku; 10 akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi; 11 akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum. 12 Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya.”

Yesus menyatakan bahwa Roh Kudus adalah “pembuka mata” bagi orang-orang yang buta secara rohani dan bagi mereka yang hanya melihat setitik cahaya kecil saja. Kita harus dengan setia meminta karunia Roh Kudus bagi sahabat-sahabat dan musuh-musuh kita, karena tanpa Dia mereka tidak akan pernah bisa melihat kerajaan Allah dan semua yang ada di dalamnya (Yohanes 3:3,5).

Tuhan Yesus menyebutkan tiga area dimana Roh Kudus membuka hati para pengikut-Nya berkaitan dengan kenyataan mengenai kerajaan Allah:

1. Pemahaman akan dosa menjadi lebih mendalam dan lebih tepat sejak kedatangan Roh Kudus. Dia yang disalibkan sudah menanggung, memperdamaikan, dan melenyapkan dosa seluruh dunia yang sudah begitu menumpuk (1 Yohanes 1:29). Ia tidak perlu mati lagi bagi orang-orang Yahudi, orang-orang Muslim, Hindu, dan atheis. Kematian-Nya satu kali yang sempurna bagi pendamaian itu cukup bagi semua manusia. Ia memperdamaikan dunia yang sudah rusak itu dengan Roh Allah (2 Korintus 5:19-21). Tetapi kemudian sesuatu yang sangat mengerikan terjadi. Kebanyakan manusia tidak memahami tentang hak mereka akan pendamaian, atau secara sengaja menolaknya. Secara hukum, sejak kematian Kristus maka sebenarnya tidak ada lagi dosa. Akan tetapi, penolakan akan kebenaran ini, membawa kepada ketidakpercayaan, dan juga penolakan akan pengampunan yang sudah disempurnakan. Dosa-dosa besar yang dilakukan oleh pribadi-pribadi, agama-agama, dan bangsa-bangsa adalah karena mereka tidak mau percaya kepada Yesus. Semua dosa-dosa mereka yang sudah diampuni melalui kematian Yesus sebagai pengganti mereka jatuh menimpa mereka kembali!

2. Kebenaran Allah tetap dijunjung tinggi bahkan meskipun ketika Tritunggal yang Kudus itu membenarkan orang-orang berdosa yang layan untuk dibinasakan. Kebangkitan Kristus menandakan bahwa kematian-Nya yang menggantikan semua orang berdosa sudah sah dan diterima oleh Allah. Iblis dan maut sama sekali tidak memiliki atau berkuasa atas Dia. Kebenaran Allah tetap tak bercela karena Anak-Nya sudah berdiri mewakili semua orang berdosa. Tuhan Yesus naik ke surga untuk mewujudkan, sebagai Imam Besar bagi kita, kebenaran kita di hadapan Allah. “Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan” (Ibrani 10:14). Karena itu, para pengikut Kristus mengasihi Tuhan dan Juruselamat mereka, meskipun mereka belum pernah bertemu dengan-Nya muka dengan muka.

3.Penghakiman atas Iblis dimulai dengan peristiwa kelahiran Kristus. Meski dengan tak tersedianya penginapan di Betlehem dan pembunuhan bayi-bayi di sana, sumber dari segala kejahatan itu tidak bisa mencegah kelahiran Mesias yang dilahirkan dari Roh Kudus. Setelah baptisan Kristus, Iblis juga tidak berhasil mencobai-Nya di padang gurun atau menyesatkan-Nya dengan nasehat sesat yang diberikan melalui Petrus agar Ia meninggalkan salib. Yesus mengasihi musuh-musuh-Nya dan berdoa bagi mereka di tengah-tengah kesakitan yang dahsyat ketika Ia tergantung di atas kayu salib (Lukas 23:34). Ia tetap percaya kepada Allah Bapa, meskipun Bapa meninggalkan-Nya. Ia terus saja berharap bahkan ketika sudah tidak ada harapan lagi (Lukas 23:46). Iblis kalah dalam setiap peperangan melawan Anak Domba Allah itu. Ia tidak bisa menghalangi kematian Kristus sebagai pengganti bagi orang-orang berdosa yang layak menerima hukuman. Sejak kenaikan dari Dia yang Disalibkan itu ke surga, si jahat sudah dibuang dari hadapan Allah (Wahyu 12:9-11). Sejak saat itu si jahat sudah tidak bisa lagi mendakwa saudara dan saudari seiman di dalam Kristus yang sudah dibenarkan. Si jahat masih tetap berusaha sampai hari ini, melalui tindakannya lewat pintu belakang, untuk membinasakan gereja Yesus baik dari dalam dan dari luarnya. Namun, ia sendiri tahu, bahwa waktu yang dimilikinya tidak lama lagi. Kristus adalah sang Pemenang! Roh Kudus-Nya memungkinkan terciptanya semua kemenangan atas Iblis di dalam gereja.

YOHANES 16:13-15
15 “Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. 14 Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari pada-Ku. 15 Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari pada-Ku.

Setelah kenaikan Kristus, Roh Kudus menyatakan lebih banyak lagi kepada para rasul dan para hamba Yesus tentang perkembangan sejarah dan kebenaran dari kenyataan-kenyataan yang sudah disebutkan sebelumnya. Apa yang dinyatakan Roh Kudus bisa dibaca di dalam kitab Kisah Para Rasul, di dalam surat-surat para utusan Kristus, dan juga di dalam kitab Wahyu. Orang akan menemukan di sana kesesuaian yang sangat luar biasa dengan pernyataan yang diberikan di dalam kitab-kitab Injil.

Tuhan dan Roh-Nya memimpin gereja yang mengalami penganiayaan menuju kepada kemenangan akhir. Dengan itu, Yesus memberikan kepada kita pemahaman tentang keserasian dan kesatuan dari Tritunggal yang Kudus. Roh Kudus tidak menyatakan apapun dari diri-Nya sendiri. Apa yang disampaikan oleh Bapa dan Anak kepada-Nya, itulah yang juga disampaikan-Nya. Ia juga menyatakan kepada anggota-anggota di dalam gereja mengenai perkembangan yang akan terjadi di masa yang akan datang. Roh Kudus tidak mempermuliakan diri-Nya sendiri, atau orang-orang yang diberi-Nya karunia Roh, tetapi Ia mempermuliakan Yesus, Anak Domba Allah. Yesus, juga, tidak mempermuliakan diri-Nya sendiri, tetapi memberikan kemuliaan kepada Bapa-Nya. Karena itu, Bapa memberikan kepada-Nya segala kuasa dan kemuliaan, baik di surga maupun di bumi, kepada Sang Anak. Sang Anak memberikan kepada Roh Kudus kuasa untuk membangun jemaat-Nya. Allah kita adalah Allah yang rendah hati. Kita hanya bisa memahami Firman-Nya dan jalan-jalan-Nya kalau kita mengijinkan diri kita diubahkan oleh kerendahan hati dan kelemah-lembutan-Nya.

Karena segala kerendahan hati dan penyangkalan diri yang tak terbatas maka Yesus bisa menyaksikan bahwa segala yang dimiliki Bapa juga adalah milik-Nya. Bapa tidak menjadi miskin atau rendah melalui penyerahan segala kuasa dan kemuliaan kepada Anak-Nya. Kepenuhan-Nya tetaplah sepenuhnya, bahkan setelah Ia membagikannya sekalipun. Kuasa sang Anak dan ketundukan sang Anak sepenuhnya kepada kehendak Bapa-Nya senantiasa menjadi unsur yang paling mendasar di dalam Tritunggal yang Kudus (Matius 11:27; 28:18; Yohanes 3:35; 16:15; 17:10). Demikianlah dinyatakan rahasia dari kasih Allah : masing-masing tidak mempermuliakan diri sendiri, tetapi mempermuliakan Pribadi lainnya (Yohanes 17:1-10).

Dengan kasih, hikmat, dan kepekaan yang besar, Yesus menyatakan kepada para murid-Nya prinsip-prinsip yang sangat dan rahasia yang sangat luas mengenai kedatangan Roh Kudus. Namun para murid belum bisa sepenuhnya, atau hanya bisa menangkap sedikit saja tentang kebenaran itu. Roh Bapa dan Anak, yang datang tidak lama setelah para murid ditinggalkan oleh Kristus, menyegarkan dan memberikan pencerahan kepada ingatan mereka. Mereka kemudian bisa memberikan kesaksian akan Tritunggal yang Kudus dan memahami keberadaan Tritunggal itu di dalam Roh kasih dan kebenaran.

YOHANES 17:20-26
20 “Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; 21 supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. 22 Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: 23 Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku. 24 Ya Bapa, Aku mau supaya, di mana pun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan. 25 Ya Bapa yang adil, memang dunia tidak mengenal Engkau, tetapi Aku mengenal Engkau, dan mereka ini tahu, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku; 26 dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka.”

Yang sangat aneh, di dalam doa Yesus sebagai Imam Besar, kita sama sekali tidak membaca mengenai Roh Kudus, atau mengenai Sang Penghibur, atau mengenai Roh Kebenaran. Tuhan berbicara, dalam percakapan iman dengan Bapa-Nya, dalam logika rohani yang tinggi. Bapa-Nya berdiam dari kekekalan di dalam Dia, juga dalam kelahiran-Nya, ketika Roh Kudus dan firman Allah menjadi manusia di dalam diri-Nya (Yohanes 10:30; 14:9, 10; 2 Korintus 5:19).

Dalam doa Imam Besar kita itu bagi kita, Ia mengakui bahwa Ia akan berdiam di dalam kehidupan kita. Ia menjamin kepada kita akan kemuliaan-Nya, bahwa kita, juga, bisa menjadi satu dengan Dia dan Bapa, sebagaimana Dia dan Bapa adalah satu. Dalam permohonan ini, Ia menunjukkan mengenai berdiamnya Roh Kudus di dalam kehidupan para pengikut-Nya. Ini menjadi semakin pasti di dalam perkataan-Nya, “...supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka.” Kasih Allah adalah Roh Kudus, yang diberikan kepada semua orang yang sudah dibenarkan oleh darah Yesus (Roma 5:5).

Doa iman ini memungkinkan kita berpikir bahwa Allah adalah Roh (Yohanes 4:24), Tuhan Yesus adalah Roh (2 Korintus 3:17-18), dan bahwa kita, melalui Roh Kudus-Nya, juga bisa menjadi Roh (Yohanes 15:5; Roma 8:1-17; Efesus 3:19-22; 4:14-21; 1 Yohanes 5:11-12; Wahyu 21:7, 22-24 dll).

Siapakah yang menyembah Bapa dan Anak di dalam Roh Kudus dan bersyukur kepada-Nya dengan penuh penyembahan di dalam kehidupannya atas semua hak istimewa yang tak terkatakan itu? Hak istimewa rohani itu tetap tersembunyi bagi orang-orang yang pintar dan berhikmat, dari orang-orang terhormat dan terkenal (Matius 11:25-30). Sebagian besar dari orang-orang Yahudi, juga, tidak memahami kenyataan akan panggilan mereka (Matius 13:10-17, Kisah Para Rasul 28:26-28). Tetapi bagaimana dengan penyembahan kita kepada Tritunggal yang Kudus di dalam kehidupan praktis kita? (Efesus 1:13-14; 2:8-10). Apakah kita, dengan pemahaman kita yang terbatas, siap untuk memahami dan percaya kepada apa yang sudah didoakan Tuhan bagi kita? Roh Kudus harus menyalakan lebih banyak terang untuk membuat kita bisa melihat siapakah Roh Kudus dan apakah kehendak-Nya di dalam kehidupan kita! Peningkatan pemahaman ini sangat berkaitan dengan pertobatan kita dari semua dosa, sikap mementingkan diri dan kesombongan yang mengalir di aliran darah kita.


Roh Kudus di Hari-Hari Terakhir Yesus Kristus di Bumi

YOHANES 13:21
21 Setelah Yesus berkata demikian Ia sangat terharu, lalu bersaksi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.”

Yesus, kasih dan kekudusan Allah yang menjadi manusia, sudah berusaha selama berbulan-bulan untuk mengubah murid-murid-Nya agar menjadi serupa dengan Dia. Ia memberikan kepada mereka kuasa untuk menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, dan mengusir setan (Matius 10:1-4; Lukas 6:12-13; 10:17).

Akan tetapi, “manusia lama” mereka terus menerus muncul kembali (Matius 16:22-23; 26:69-75). Salah satu dari dua belas orang yang terpilih, Yudas, mencintai uang. Ia juga yang menyimpan kotak uang, dan kemudian mencuri dari sana (Yohanes 12:6). Mungkin ia mau memaksa Yesus menunjukkan kekuasaan sebagai raja dan menyatakan kemahakuasaan-Nya. Ia memberitahukan kepada penguasa mengenai dimana Yesus berada dan menyerahkan Yesus kepada imam besar dengan bayaran 30 keping uang perak (Matius 26:15; 27:3-9).

Namun, Yesus tetap saja mengasihi orang yang mengkhianati-Nya, dan berusaha untuk membuatnya berbalik dari kejahatannya (Matius 26:21-25, 50). Namun, dalam kenyataannya, Yesus juga merasa sangat terganggu roh-Nya. Ia merasakan kesedihan dalam jiwa dan roh kemanusiaan-Nya. Lebih lagi, kesedihan-Nya berkaitan dengan Roh Ilahi, yang memenuhi Pribadi-Nya. Dalam beberapa kesempatan Yesus menderita kesedihan dan rasa iba yang demikian sampai Ia menangis (Matius 23:37-39; Lukas 13:34-35; 19:41-44; Yohanes 11:33, 35, 38; 13:21). Anak Allah menderita karena ketidakpercayaan, kebutaan rohani, kejahatan bangsanya, dan juga karena mereka ada di bawah kuasa maut. Ia datang untuk menebus semua manusia, tetapi umat-Nya sama sekali tidak bisa memahami hal itu. Dosa mereka masih belum diperdamaikan dan Roh Allah belum masuk ke dalam hidup mereka. Mereka membiarkan Juruselamat mereka disalibkan. Namun, Dia, sebagai Imam Besar mereka yang sejati, berdoa bagi mereka, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Lukas 23:34).

LUKAS 23:44-46
44 Ketika itu hari sudah kira-kira jam dua belas, lalu kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga, 45 sebab matahari tidak bersinar. Dan tabir Bait Suci terbelah dua. 46 Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan roh-Ku." Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya.

Setelah penderitaan di kayu salib yang berlangsung selama beberapa jam, disertai dengan cobaan dari Iblis, yang berusaha untuk menggoda Kristus yang sudah lemah itu untuk bisa membenci musuh-musuh-Nya dan menyatakan ketidakpercayaan kepada Allah, maka saat-saat terakhir hidup-Nya tiba. Apakah Ia akan menjadi putus asa, dan memberontak kepada Bapa-Nya di surga? Tidak! Ia percaya, mengasihi dan berharap sampai akhirnya. Ia berdoa, “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu kuserahkan roh-Ku.Ia percaya kepada kuasa, kemuliaan, dan kasih Bapa-Nya. Roh Yesus tidak pergi mengembara di padang gurun setelah kematian-Nya, tetapi tetap ada di dalam kasih dan kekudusan Bapa-Nya. Roh Kudus tidak pernah mati, karena Ia adalah kehidupan kekal. Namun, roh dan jiwa kemanusiaan Yesus, yang menyatu dengan Roh Kudus''', membutuhkan lompatan iman dan pengharapan di dalam rasa aman yang kekal dari Bapa-Nya yang mahakuasa. Yesus berdoa dan mengangkat hanya setengah dari sebuah nyanyian iman dari Perjanjian Lama, karena Ia tidak membutuhkan penebusan seperti yang tertulis di dalam bagian kedua dari Mazmur itu. Sebaliknya, Ia sendiri yang akan mnjadi Penebus bagi orang-orang lain (Mazmur 31:5).

Yesus sudah berjanji, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah” (Yohanes 12:24). Dia, Yang dilahirkan karena Roh Kudus, sudah mati, supaya banyak anak-anak Allah yang dipenuhi dengan Roh Kudus akan dibangkitkan karena kematian-Nya.

YOHANES 20:21-23
21 Maka kata Yesus sekali lagi: "Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu." 22 Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: "Terimalah Roh Kudus. 23 Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.”

Yesus sudah sungguh-sungguh bangkit dari kematian! Ia memang sudah bangkit! Roh Kudus di dalam Dia tidak pernah mati, karena Ia hidup kekal. Ia adalah kehidupan Bapa di dalam Anak. Tidak ada pengharapan lain bagi manusia di bumi ini selain dengan menerima Roh kehidupan yang kekal dari Yesus.

Di sore hari setelah kebangkitan-Nya Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya yang ketakutan dan dua kali menyapa mereka dengan kata-kata penuh damai. Mereka sungguh-sungguh membutuhkan damai sejahtera Allah yang melampaui segala pemahaman kita! Mereka tidak hanya membutuhkan damai sejahtera bagi diri mereka sendiri, tetapi bagi semua manusia.

Yesus langsung memanggil para murid yang sedang gelisah itu untuk melakukan pekerjaan missi menjangkau dunia. Ia memberikan janji yang luar biasa kepada orang-orang yang gagal dan melarikan diri itu, “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Secara manusia, perintah ini tidak bisa dibayangkan dan tidak mungkin dipenuhi. Secara rohani, hal itu merupakan kesimpulan dari semua pengajaran dan perintah Yesus di dalam Injil. Kehidupan Kristen bukanlah kehidupan yang dijalani di dalam egoisme rohani atau kepastian dari kekuatan sendiri. Juga, kehidupan Kristen memiliki hak istimewa untuk memenuhi amanat kasih Allah dalam melihat orang-orang yang mati di dalam dosa dibangkitkan di dalam Roh Kehidupan.

Yesus mengembusi para murid-Nya sebagai tanda bahwa Ia memulai sebuah ciptaan baru. Sebagaimana Allah mengembusi nafas hidup kepada Adam, demikian juga, dalam skala yang lebih besar, Yesus mengembusi Roh kehidupan dari-Nya kepada para murid yang sedang gelisah. Kebangkitan-Nya dari kematian menjadi bukti bahwa Anak Allah penuh dengan kuasa kehidupan dan bahwa tidak ada satupun yang bisa menundukkan atau membinasakan kuasa itu. Sampai saat ini juga, Yesus mengembuskan Roh kehidupan dari-Nya ke dalam kehidupan semua orang yang mencari Dia, yang membuka diri bagi Dia dan mengasihi Dia.

Yesus kemudian memberikan kepada mereka sebuah perintah yang baik, yang mengubahkan manusia bahkan sampai hari ini, “Terimalah Roh-Ku!” Tuhan tidak mengatakan, “Terimalah Roh-Ku melalui keputusanmu untuk siap menerima.” Namun, Ia memerintahkan mereka untuk tidak menghalangi aliran Roh-Nya memasuki kehidupan mereka. Roh Allah datang dengan sendirinya, dan berkehendak untuk masuk ke dalam kehidupan kita. Kita tidak perlu menarik, mendorongatau membantu-Nya. Ia datang dengan kehendak Ilahi-Nya. Kita bisa dengan penuh syukur membuka diri kita kepada aliran anugerah Allah, karena anugerah itu sudah senantiasa mengalir ke segala penjuru sejak pendamaian dunia dengan Allah digenapkan oleh kematian Kristus yang memperdamaikan. Sudahkah perintah Kristus ini sampai kepada anda, Saudara? Apakah anda memahaminya? Bersyukurlah kepada Yesus karena Roh Kudus sudah datang kepada anda! Anda tidak memperjuangkan hal itu, tetapi Yesus mengasihi anda dan mau menghidupkan anda. Ia memberikan kasih karunia-Nya kepada anda secara cuma-cuma.

Jangan pernah lupa bahwa Roh Allah, yang dengan rela datang kepada anda, adalah sepenuhnya kudus. Ia tidak membiarkan adanya dusta, kecemaran atau kecongkakan. Ia mau mengalahkan kebencian di dalam diri anda terhadap orang-orang lain dan membuang kegeraman atau kemarahan anda. Roh Kudus kasih Allah menguduskan anda! Anda tidak bisa terus berada di dalam kehidupan yang sama dengan sebelumnya. Dosa anda perlu dibuang dari dalam batin anda. Roh kebenaran mendorong anda untuk mengakui semua pelanggaran anda di hadapan Allah dan meminta pengampunan. Kalau anda menyimpan apapun yang bukan milik anda anda harus secepat mungkin mengembalikannya dan meminta maaf. Jangan bersikap seolah-olah anda bisa menjadi orang yang baik dan suci. Kenali dan akui keberadaan diri anda yang sebenarnya, karena Roh Kristus itu kudus dan menguduskan anda untuk melakukan pelayanan kasih dan kebenaran.

Karunia Roh Kudus menunjukkan kelengkapan untuk pelayanan bagi Yesus. Apakah anda mau melayani Penebus anda dan bersyukur kepada-Nya atas keselamatan anda? Ia menantikan anda menyatakan kasih-Nya yang kudus di hadapan sesama anda, agar anda berdoa untuk mereka, berkorban, dan memberikan waktu anda untuk mereka. Ia menghendaki agar Injil kasih karunia mengalahkan kebutaan rohani dan dosa mereka sehingga mereka bisa juga menerima penebusan sampai selamanya. Barangsiapa tetap menolak berita anugerah dari Kristus sedang mengeraskan diri mereka terhadap Roh Allah dan membiarkan diri terjerat, bahkan setelah mendengar kesaksian dari para saksi Kristus. Semua pernyataan Injil yang benar akan mendatangkan dua akibat:Pemberitaan itu akan menyelamatkan orang berdosa dari murka dan penghakiman Allah atau justru akan menjerat dan membelenggu dia, karena orang itu menutup diri terhadap Roh Kristus.

Tidak ada orang atau bahkan pendeta sekalipun yang bisa mengampuni dosa dengan kekuatannya sendiri. Namun, barangsiapa menyaksikan Injil di bawah pimpinan Roh Kudus, bisa mengalami kenyataan bagaimana firman Allah memiliki kuasa dan kewenangan untuk membebaskan manusia dari dosa dan ikatan kuasa kegelapan. Firman itu memampukan kehidupan Allah diberikan kepada manusia di dalam Roh Kudus-Nya.

www.Waters-of-Life.net

Page last modified on February 18, 2013, at 11:49 AM | powered by PmWiki (pmwiki-2.2.50)