Waters of Life

Biblical Studies in Multiple Languages

Search in "Indonesian":
Home -- Indonesian -- Matthew - 198 (Rebuke of the Scribes and Pharisees)
This page in: -- Arabic -- Armenian -- Azeri -- Bulgarian -- Chinese -- English -- French -- Hebrew -- Hungarian? -- INDONESIAN -- Latin? -- Peul? -- Polish -- Russian -- Spanish? -- Uzbek -- Yiddish

Previous Lesson -- Next Lesson

MATIUS - Bertobatlah, Kerajaan Kristus Sudah Dekat!
Belajar dari Injil Kristus menurut Matius
BAGIAN 4 – Pelayanan Terakhir Yesus di Yerusalem (Matius 21:1 - 25:46)
B – Kristus Menegur dan Memperingatkan para Pemimpin Agama Yahudi (Matius 23:1-39) – Kumpulan Kelima dari Perkataan Yesus

1. Teguran kepada Ahli Taurat dan Orang-orang Farisi (Matius 23:1-7)


MATIUS 23:1-7
1 Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: 2 "Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. 3 Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. 4 Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. 5 Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; 6 mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; 7 mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi.
(Bilangan 15:38-39, Maleakhi 2:7-8, Matius 6:1-8, 11:28-30, Lukas 14:7-11, Kisah Para Rasul 15:10, 28, Roma 2:21-23)

Yesus mengakui otoritas dan tugas orang-orang Farisi sebagai penerus Musa; dengan demikian, mereka harus mengajarkan doktrin yang benar berdasarkan apa yang ada di dalam Perjanjian Lama. Tuhan menganggap tugas itu penting, dan mendorong para murid-Nya untuk melakukan juga penyelidikan yang seksama kepada tulisan para nabi di dalam Kitab Suci, dan menerima tafsiran dari para ahli Taurat.

Orang-orang Farisi duduk di kursi Musa, bukan sebagai pengantara antara Allah dan bangsa Israel, tetapi sebagai pengajar hukum (Keluaran 18:26). Mereka bukan pemberi hukum seperti kaum Sanhedrin, tetapi menafsirkan perintah hukum dan mendorong bangsa itu untuk menerapkannya.

Tidak cukup hanya sekedar memahami hukum dengan 613 penjelasannya. Yang penting adalah menerapkannya. Sangat mudah untuk mengajar atau menafsirkan hukum dibandingkan dengan melakukannya. Tidak ada manusia yang sempurna, tetapi celakalah mereka yang memaksakan tanggungjawab kepada orang-orang lain sementara ia sendiri tidak mau mentaatinya. Ini kemunafikan. Barangsiapa memaksakan ketaatan kepada aturan dan tanggungjawab, dengan lebih tegas dan kejam dibandingkan Allah sendiri, bukanlah pengajar Perjanjian Baru melainkan masih di dalam tradisi orang-orang Farisi.

Yesus mengajarkan bahwa barangsiapa melanggar bahkan satu saja perintah dan mengajarkan orang lain untuk melakukannya layak menerima hukuman yang sama (Matius 5:19). Dosanya dianggap sama seperti kalau ia mengabaikan seluruh hukum yang ada (Yakobus 2:10), karena barangsiapa tidak taat kepada salah satu hukum berarti ia melakukan pelanggaran terhadap Allah sendiri. Meskipun para ahli Taurat mengetahui bahwa mereka juga ada di bawah hukuman karena pelanggaran mereka terhadap perintah Tuhan, mereka mengabaikan kebenaran itu, berpegang kepada tradisi nenek moyang. Mereka mengikuti banyak adat istiadat seperti mengikat tangan mereka dengan sabuk kulit ketika berdoa dan membasuh diri, dan menjahit kerutan di pakaian mereka (masing-masingnya melambangkan sebuah perintah, tugas, atau larangan). Mereka menciptakan banyak aturan dan ritual untuk menenangkan hati nurani mereka sendiri dan mengurangi rasa bersalah mereka. Mereka menekankan ketaatan dan penerapan hukum kepada orang-orang lain tanpa mereka sendiri mau melakukannya.

Tempat yang baik bisa diduduki oleh orang yang buruk. Tidak ada yang baru bahwa orang yang paling jahat juga bisa ditinggikan bahkan menduduki kursi Musa (Mazmur 12:8). Ketika hal itu terjadi, orang-orang itu tidak akan dihargai karena jabatan mereka menjadi tidak berharga karena mereka. Jabatan rohani bisa menjadi lebih penting dibandingkan kerohanian itu sendiri, dan kesombongan orang-orang yang demikian mengubahkan penyembahan menjadi kemunafikan dan penghujatan. Orang-orang munafik di jaman Yesus secara terbuka ditegur oleh-Nya; Ia menjelaskan kepada mereka bahwa mereka mengasihi tradisi manusia lebih dari perintah Allah (Matius 15:9).

DOA: Tuhan Yesus Kristus, kami bersyukur kepada-Mu karena Engkau menegur orang-orang munafik yang mengajarkan ketaatan kepada perintah-perintah yang mereka sendiri tidak lakukan. Mereka memilih berpura-pura saleh di depan orang-orang lain sementara mereka adalah si jahat itu sendiri. Ampunilah kami atas semua perkataan salah yang kami katakan dan kepura-puraan bahwa kami bukan orang munafik ketika berbicara mengenai kesalehan tetapi kami tidak melakukannya. Peliharalah kami dari kemunafikan dan tolonglah kami untuk benar di dalam perkataan dan perbuatan setiap saat. Pimpinlah kami untuk bertobat secara rohani dan menjadi saksi yang bijaksana.

PERTANYAAN 200: Mengapa Yesus menegur ahli Taurat dan orang-orang Farisi di masa-Nya?

www.Waters-of-Life.net

Page last modified on October 09, 2012, at 09:37 AM | powered by PmWiki (pmwiki-2.2.109)